Mari
Mengenal Kebencanaan Gempa Bumi
1. Materi:
1) Pengertian
bencana dan gempa bumi
Bencana
adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga
menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia.
Gempa bumi adalah
peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara
tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Energi
yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga
efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.Semakin besar energi yang
dilepas semakin kuat gempa yang terjadi.
Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan dimana lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini dapat dilakukan bila terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana tersebut.
Klasifikasi gempa, antara lain:
Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan dimana lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini dapat dilakukan bila terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana tersebut.
Klasifikasi gempa, antara lain:
·
Berdasarkan penyebabnya :
Ø Gempa
tektonik, yaitu gempa yang disebabkan oleh pergeseran lapisan batuan pada
daerah patahan.
Ø Gempa
vulkanik,yaitu gempa yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanisme.
Ø Gempa
guguran (gempa runtuhan), yaitu disebabkan oleh runtuhnya bagian gua.
Ø Gempa
tumbukan, yaitu gempa yang disebabkan oleh meteor besar yang jatuh ke bumi.
·
Berdasarkan bentuk episentrum :
Ø Gempa
sentral, yaitu gempa yang episentrumnya titik.
Ø Gempa
linier, yaitu gempa yang episentrumnya garis.
Ø Berdasarkan
kedalaman hiposentrum
Ø Gempa
dalam, yaitu lebih dari 300 km
Ø Gempa
menengah, yaitu antara 100-300 km
Ø Gempa
dangkal, yaitu kurang dari 100 km
2) Tata
cara melakukan simulasi
a)
Jika berada di dalam rumah: Masuklah
ke bawah meja untuk melindungi tubuhmu dari jatuhan benda-benda. Jika kamu
tidak memiliki meja, lindungi kepalamu dengan bantal. Jika kamu sedang
menyalakan kompor, matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
b)
Jika berada di luar rumah: Lindungi
kepalamu dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan
industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame.
Lindungi kepalamu dengan menggunakan tangan, tas atau apa pun yang kamu bawa.
c)
Jika kamu berada di mall, bioskop,
atau di lantai dasar gedung: Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari
kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari pegawai atau satpam.
d)
Jika kamu berada di dalam lift:
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika kamu
merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, tekanlah semua tombol.
Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika kamu
terjebak dalam lift, hubungi petugas gedung dengan menggunakan interphone jika
tersedia.
e)
Jika kamu berada di dalam kereta
api: Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga kamu tidak akan terjatuh
seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti
penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas
kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.
f)
Jika kamu berada di dalam mobil: saat terjadi
gempa bumi besar, kamu akan merasa seakan-akan roda mobil tersebut gundul.
Sopir akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi
persimpangan, pinggirkan mobil di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi
dari radio mobil. Jika harus mengungsi, keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak
terkunci.
g)
Jika kamu berada di gunung/pantai: Ada
kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat
aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika kamu merasakan
getaran dan tandatanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang
tinggi.
h)
Dengarkan informasi: Saat gempa bumi
besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan,
penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan
informasi yang benar. Kamu dapat memperoleh informasi yang benar dari pihak
berwenang, polisi, atau petugas PMK. Jangan bertindak karena informasi orang
yang tidak jelas.
3) Cara
mengurangi resiko bencana gempa bumi
Mitigasi, menurut Undang-Undang
Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, merupakan serangkaian upaya untuk
mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Selain itu, juga bertujuan
untuk mengurangi dan mencegah risiko kehilangan jiwa serta perlindungan
terhadap harta benda. Disamping kerusakan fisik, yang sering membutuhkan waktu
lama pada saat pemulihan adalah kerusakan nonfisik. Korban atau masyarakat yang
selamat dari gempa menjadi kehilangan mata pencarian, hidup di tempat
pengungsian atau di tempat saudara dalam waktu yang tidak menentu. Keluarga
yang selamat juga banyak yang menanggung beban sakit anggota keluarga yang
lain.
Beberapa hal dapat dilakukan untuk
meminimalkan risiko bencana gempa bumi Misalnya, pertama melakukan
pemetaan daerah rawan gempa. Hal ini bisa dilakukan lembaga riset atau
perguruan tinggi. Hasil studi ini dapat dijadikan landasan untuk kebijakan
pemerintah pusat ataupun daerah serta untuk peningkatan kesadaran masyarakat
terhadap ancaman bencana. Kedua, membuat aturan yang ketat tentang
pendirian bangunan, baik perumahan, perkantoran, maupun fasilitas publik yang
tahan gempa. Aturan tersebut perlu diikuti dengan inspeksi sebelum dan saat
pendirian bangunan. Selain itu, untuk warga yang tidak mampu bisa disediakan
tenaga untuk membantu memberikan masukan mendirikan bangunan yang tahan gempa.
Pendekatan kedua ini sering disebut mitigasi struktural karena menekankan pada
penguatan seluruh bangunan fisik. Ketiga, membuat jalur-jalur evakuasi
dan rambu-rambu, seperti tanda pintu darurat untuk evakuasi ketika terjadi
gempa bumi. Jalur dan rambu ini penting karena evakuasi saat terjadi kebakaran
gedung, misalnya, sangat berbeda dengan evakuasi saat terjadi gempa bumi.
Sayangnya, hal ini sering dilupakan, termasuk pada gedung perkantoran di
kota-kota yang rawan gempa bumi. Justri yang sering diperhatikan, jalur
evakuasi saat terjadi kebakaran. Keempat, pembuatan jalur ini perlu
diikuti penyuluhan dan latihan secara periodik untuk evakuasi bagi warga yang
berada di rumah, di gedung perkantoran, di sekolah, pusat perbelanjaan, di
jalan raya, atau tempat lain. Latihan ini penting agar mengetahui jalur
penyelamatan diri dan tidak panik saat terjadi bencana sehingga jumlah korban
bisa ditekan sekecil mungkin. Kelima, peningkatan kemampuan dan
keterampilan memberikan pertolongan pertama pada korban bencana. Peningkatan
kemampuan ini disertai dengan penyiapan peralatan kesehatan dan berbagai
kebutuhan dasar, seperti air minum, makanan kering, hingga pakaian dalam. Keenam,
memberikan pelatihan dan meningkatkan keterampilan terus-menerus bagi petugas
yang melakukan evakuasi dan penyelamatan korban bencana. Dengan metode
penyelamatan tidak salah karena keliru dalam penanganan korban bencana bisa
berakibat kondisi kesehatan korban semakin parah. Pendekatan ketiga hingga
keenam biasanya disebut mitigasi nonstruktural. Ketujuh, mitigasi nonstruktural
juga dapat dilakukan dengan memperkenalkan atau menerapkan asuransi bencana di
daerah yang rawan gempa. Jadi, masyarakat tidak harus menunggu bantuan dari
pemerintah atau donatur saat harus melakukan pemulihan pascabencana, terutama
dari sisi ekonomi.
2. Tujuan:
1) Peserta didik mampu memahami pengertian bencana dan gempa bumi
2) Peserta didik mampu memahami tata cara melakukan
simulasi
3) Peserta didik mampu memahami
cara mengurangi resiko bencana gempa bumi
3. Alat
Belajar:
a) Materi
“konsep dasar proses terjadinya gempa bumi”
b) Spidol
c) Karton
d) Pensil
warna
e) Sirie
untuk bencana
4. Metode:
a) Diskusi
kelompok
b) Ceramah
interaktif
c) Tes
simulasi bencana
5. Proses:
a) Guru
menjelaskan tentang bencana gempa bumi
b) Guru
membagi kelompok unruk mendiskusikan cara penanggulangan bencana
c) Guru
mengajak siswa untuk simulasi genpa bumi
d) Guru
menyuruh siswa untuk membuat jalur evakuasi yang ada di sekolah
6. Evaluasi:
a) Praktek
simulasi bencana gempa bumi bersama kelompok
b) Membuat
poster tentang rambu-rambu jalur evakuasi bersama kelompok
7. Waktu:
Ø 40
menit : penjelasan materi
Ø 40
menit : simulasi
Ø 40
menit : pembuatan poster
8. Bahan
Bacaan:
“pendidikan
mitigasi bencana : buku pegangan guru” ITB