Sabtu, 13 Juli 2013

LKS

 

Mari Mengenal Kebencanaan Gempa Bumi

                   1.      Materi:
1)      Pengertian  bencana dan gempa bumi
Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia.
Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.Semakin besar energi yang dilepas semakin kuat gempa yang terjadi.
Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan dimana lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini dapat dilakukan bila terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana tersebut.
Klasifikasi gempa, antara lain:
·         Berdasarkan penyebabnya :
Ø  Gempa tektonik, yaitu gempa yang disebabkan oleh pergeseran lapisan batuan pada daerah patahan.
Ø  Gempa vulkanik,yaitu gempa yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanisme.
Ø  Gempa guguran (gempa runtuhan), yaitu disebabkan oleh runtuhnya bagian gua.
Ø  Gempa tumbukan, yaitu gempa yang disebabkan oleh meteor besar yang jatuh ke bumi.
·         Berdasarkan bentuk episentrum :
Ø  Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya titik.
Ø  Gempa linier, yaitu gempa yang episentrumnya garis.
Ø  Berdasarkan kedalaman hiposentrum
Ø  Gempa dalam, yaitu lebih dari 300 km
Ø  Gempa menengah, yaitu antara 100-300 km
Ø  Gempa dangkal, yaitu kurang dari 100 km
2)      Tata cara melakukan simulasi
a)      Jika berada di dalam rumah: Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuhmu dari jatuhan benda-benda. Jika kamu tidak memiliki meja, lindungi kepalamu dengan bantal. Jika kamu sedang menyalakan kompor, matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
b)      Jika berada di luar rumah: Lindungi kepalamu dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepalamu dengan menggunakan tangan, tas atau apa pun yang kamu bawa.
c)      Jika kamu berada di mall, bioskop, atau di lantai dasar gedung: Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari pegawai atau satpam.
d)     Jika kamu berada di dalam lift: Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika kamu merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika kamu terjebak dalam lift, hubungi petugas gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.
e)      Jika kamu berada di dalam kereta api: Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga kamu tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.
f)        Jika kamu berada di dalam mobil: saat terjadi gempa bumi besar, kamu akan merasa seakan-akan roda mobil tersebut gundul. Sopir akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi, keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.
g)       Jika kamu berada di gunung/pantai: Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika kamu merasakan getaran dan tandatanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
h)      Dengarkan informasi: Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Kamu dapat memperoleh informasi yang benar dari pihak berwenang, polisi, atau petugas PMK. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.


3)      Cara mengurangi resiko bencana gempa bumi
Mitigasi, menurut Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Selain itu, juga bertujuan untuk mengurangi dan mencegah risiko kehilangan jiwa serta perlindungan terhadap harta benda. Disamping kerusakan fisik, yang sering membutuhkan waktu lama pada saat pemulihan adalah kerusakan nonfisik. Korban atau masyarakat yang selamat dari gempa menjadi kehilangan mata pencarian, hidup di tempat pengungsian atau di tempat saudara dalam waktu yang tidak menentu. Keluarga yang selamat juga banyak yang menanggung beban sakit anggota keluarga yang lain.
Beberapa hal dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana gempa bumi Misalnya, pertama melakukan pemetaan daerah rawan gempa. Hal ini bisa dilakukan lembaga riset atau perguruan tinggi. Hasil studi ini dapat dijadikan landasan untuk kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah serta untuk peningkatan kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana. Kedua, membuat aturan yang ketat tentang pendirian bangunan, baik perumahan, perkantoran, maupun fasilitas publik yang tahan gempa. Aturan tersebut perlu diikuti dengan inspeksi sebelum dan saat pendirian bangunan. Selain itu, untuk warga yang tidak mampu bisa disediakan tenaga untuk membantu memberikan masukan mendirikan bangunan yang tahan gempa. Pendekatan kedua ini sering disebut mitigasi struktural karena menekankan pada penguatan seluruh bangunan fisik. Ketiga, membuat jalur-jalur evakuasi dan rambu-rambu, seperti tanda pintu darurat untuk evakuasi ketika terjadi gempa bumi. Jalur dan rambu ini penting karena evakuasi saat terjadi kebakaran gedung, misalnya, sangat berbeda dengan evakuasi saat terjadi gempa bumi. Sayangnya, hal ini sering dilupakan, termasuk pada gedung perkantoran di kota-kota yang rawan gempa bumi. Justri yang sering diperhatikan, jalur evakuasi saat terjadi kebakaran. Keempat, pembuatan jalur ini perlu diikuti penyuluhan dan latihan secara periodik untuk evakuasi bagi warga yang berada di rumah, di gedung perkantoran, di sekolah, pusat perbelanjaan, di jalan raya, atau tempat lain. Latihan ini penting agar mengetahui jalur penyelamatan diri dan tidak panik saat terjadi bencana sehingga jumlah korban bisa ditekan sekecil mungkin. Kelima, peningkatan kemampuan dan keterampilan memberikan pertolongan pertama pada korban bencana. Peningkatan kemampuan ini disertai dengan penyiapan peralatan kesehatan dan berbagai kebutuhan dasar, seperti air minum, makanan kering, hingga pakaian dalam. Keenam, memberikan pelatihan dan meningkatkan keterampilan terus-menerus bagi petugas yang melakukan evakuasi dan penyelamatan korban bencana. Dengan metode penyelamatan tidak salah karena keliru dalam penanganan korban bencana bisa berakibat kondisi kesehatan korban semakin parah. Pendekatan ketiga hingga keenam biasanya disebut mitigasi nonstruktural. Ketujuh, mitigasi nonstruktural juga dapat dilakukan dengan memperkenalkan atau menerapkan asuransi bencana di daerah yang rawan gempa. Jadi, masyarakat tidak harus menunggu bantuan dari pemerintah atau donatur saat harus melakukan pemulihan pascabencana, terutama dari sisi ekonomi.
             2.      Tujuan:
1) Peserta didik mampu memahami pengertian  bencana dan gempa bumi
2) Peserta didik mampu memahami tata cara melakukan simulasi
3) Peserta didik mampu memahami cara mengurangi resiko bencana gempa bumi
            3.      Alat Belajar:
a)      Materi “konsep dasar proses terjadinya gempa bumi”
b)      Spidol
c)      Karton
d)     Pensil warna
e)      Sirie untuk bencana
           4.      Metode:
a)      Diskusi kelompok
b)      Ceramah interaktif
c)      Tes simulasi bencana 
           5.      Proses:
a)      Guru menjelaskan tentang bencana gempa bumi
b)      Guru membagi kelompok unruk mendiskusikan cara penanggulangan bencana
c)      Guru mengajak siswa untuk simulasi genpa bumi
d)     Guru menyuruh siswa untuk membuat jalur evakuasi yang ada di sekolah
          6.      Evaluasi:
a)      Praktek simulasi bencana gempa bumi bersama kelompok
b)      Membuat poster tentang rambu-rambu jalur evakuasi bersama kelompok
          7.      Waktu:
Ø  40 menit : penjelasan materi
Ø  40 menit : simulasi
Ø  40 menit : pembuatan poster
          8.      Bahan Bacaan:
             “pendidikan mitigasi bencana : buku pegangan guru” ITB